APLIKASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PENINGKATAN KESERASIAN PENDIDIKAN

I.PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sebelum membahas aplikasi atau peranan Teknologi Pendidikan terhadap keserasian pendidikan, terlebih dahulu akan dijelaskan definisi pendidikan, menurut John Dewey (dalam Ahmadi dan Uhbiyati, 2007: 69), yaitu bahwa pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia. Atau definisi pendidikan seperti yang terdapat dalam UU RI No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta ddik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Karena kita berada di negara Indonesia, sehingga sistem pendidikan yang diterapkan dalam pendidikan adalah sistem pendidikan nasional yang diatur dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang mendefinisikan Sistem Pendidikan Nasional sebagai keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan, bahkan dapat dikatakan bahwa untuk berlangsungnya proses kerja pendidikan diperlukan keberadaan komponen-komponen atau unsur-unsur pendidikan.
Berikut di dalam makalah ini akan diuraikan satu persatu unsur-unsur pendidikan tersebut. Dan di sini diperlukan keserasian antar unsur-unsur tersebut sehingga keserasian pendidikan bisa dicapai, dalam hal ini tentunya diperlukan aplikasi teknologi pendidikan untuk meningkatkan keserasian pendidikan.

  1. Permasalahan

Pada makalah ini yang berjudul Aplikasi Teknologi Pendidikan Dalam Peningkatan Keserasian Pendidikan, akan dikemukakan masalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan keserasian pendidikan?
  2. Bagaimana aplikasi Teknologi Pendidikan dalam peningkatan keserasian pendidikan?
  3. Tujuan

Tujuan pada makalah ini adalah untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai:

  1. Keserasian pendidikan.
  2. Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam peningkatan keserasian pendidikan.
  3. PEMBAHASAN
  4. Keserasian Pendidikan

Definisi alternatif atau luas terbatas dari pendidikan dalam Mudyahardjo (2010:11) dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan, yang berlangsung di sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan perserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang. Dari definisi di atas bisa dilihat bahwa pendidikan adalah proses dan dalam proses pendidikan melibatkan unsur-unsur pendidikan yang dijelaskan dalam Tirtarahardja dan La Sula (2000:51-52), yaitu:

  1. Subjek yang dibimbing (peserta didik)
  2. Orang yang membimbing (pendidik)
  3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
  4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)
  5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
  6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)

Keserasian adalah suatu kecocokan satu hal dengan hal lain,membentuk suatu keharmonisan tanpa hambatan dan kendala yang terjadi dalam rangka mencapai suatu tujuan. Pendidikan di Indonesia dalam mencapai tujuannya harus mewujudkan keserasasian pendidikan.Keserasian pendidikan   bisa diartikan juga sebagai kesesuaian pendidikan yang dijelaskan dalam Miarso (2011: 516), kesesuaian pendidikan mengandung ciri adanya:

  1. Kesepadanan dengan karakteristik peserta didik perorangan maupun kelompok, yaitu aspek-aspek atau kualitas seperti bakat, motivasi, dan kemampuan telah dimiliki oleh pesertadidik.
  2. Keserasian dengan aspirasi perorangan maupun masyarakat.
  3. Kecocokan dengan kebutuhan masyarakat baik yang sifatnya normatif, proyektif, ekspresif, maupun komparatif.
  4. Kesesuaian dengan kondisi lingkungan, yang dapat meliputi budaya, sosial, politik, ekonomi, dan wilayah.
  5. Keselarasan dengan tuntutan zaman, misalnya untuk belajar lebih banyak, lebih cepat, dan terus menerus sepanjang hayat.
  6. Ketepatan dengan teori, prinsip, dan atau nilai baru dalam bidang pendidikan, misalnya belajar menyelidik (inquiry learning), belajar mandiri, belajar penguasaan, belajar struktur bidang studi, dan lainnya.
  7. Aplikasi Teknologi Pendidikan dalam Peningkatan Keserasian Pendidikan

Sebelum membahas bagaimana aplikasi teknologi pendidikan dalam

peningkatan keserasian pendidikan, akan dijelaskan terlebih dahulu definisi teknologi pendidikan atau yang juga disebut dengan teknologi pembelajaran yang dijelaskan dalam Miarso (2011:293), sebagai teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian dan penelitian proses, sumber dan sistem untuk belajar. Definisi tersebut mengandung pengertian adanya empat komponen dalam teknologi pembelajaran, yaitu:

        Teori dan praktik

        Desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian, dan penelitian

        Proses, sumber, dan sistem

        Untuk belajar.

Setelah dijelaskan mengenai definisi teknologi pendidikan di atas, di dalam pembahasan selanjutnya akan dibahas mengenai bagaimana aplikasi teknologi pendidikan dalam meningkatkan keserasian pendidikan yang akan dihubungkan dengan  pengaplikasian terhadap unsur-unsur dalam pendidikan.

1)      Peserta Didik.
Perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik. Kalau dulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan termasuk juga didalamnya orang dewasa.

Aplikasi teknologi pendidikan untuk peserta didik adalah diperhatikannya karakteristik para peserta didik, baik dilihat dari segi kemampuan, kondisi dan aspirasinya, kalau dalam lingkungan pendidikan reguler contohnya perlakuan terhadap peserta didik harus disesuaikan dengan karakter peserta didik, diterapkan belajar mandiri untuk peserta didik, artinya peserta didik tidak hanya mendengarkan ceramah dari pendidik, tapi diberikannya modul pembelajaran, penggunaan media berbasis teknologi, baik teknologi sederhana maupun modern, seperti penggunaan komputer, media audio atau visual, dan lain sebagainya.

Selain dari itu, adanya peserta didik yang tidak dapat melangsungkan pendidikan dalam lingkungan pendidikan terbatas, sehingga dibentuknya sistem pendidikan terbuka, diantaranya SMPT yang merupakan aplikasi dari teknologi pendidikan (Miarso, 2011:239). Adanya konsep dasar pengembangan Sistem Belajar Mandiri, yang secara konseptual keberadaanya didasarkan pada anggapan bahwa semua manusia dapat belajar apa saja, melalui apa saja, dari apa dan siapa saja, kapan saja, dengan cara yang sesuai dengan karakteristik dan kondisi masing-masing. SBM pada dasarnya merupakan salah satu penerapan Teknologi Pendidikan, yang ditujukan kepada peserta didik/pelajar, yaitu agar mereka dapat dimungkinkan mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kondisi mereka. (Miarso, 2011:253)

Sistem Belajar Terbuka (SBT) yang merupakan bagian dari Sistem Belajar Mandiri, diantaranya Belajar Jarak Jauh, yang mengandung arti sebenarnya adalah antara siswa dan penyaji materi terpisah oleh jarak,sehingga perlu ada upaya tertentu untuk mengatasinya (Prawiradilaga dan Siregar, 2008: 192)

Di bawah ini dijelaskan contoh nyata dari aplikasi Teknologi Pendidikan terhadap keserasian pendidikan tersebut diantaranya adalah melalui perancangan dan pembuatan modul, digital library, universitas terbuka, e-learning, dan pendidikan jarak jauh.

  1. Perancangan dan pembuatan modul pembelajaran.

Dengan adanya pembuatan modul modul Sistem belajar dengan fasilitas modul telah dikembangkan baik di luar maupun di dalam negeri, yang dikenal dengan Sistem Belajar Bermodul (SBB). SBB telah dikembangkan dalam berbagai bentuk dengan berbagai nama pula, seperti Individualized Study System, Self-pased study course, dan Keller plan (Tjipto Utomo dan Kees Ruijter, 1990). Masing-masing bentuk tersebut menggunakan perencanaan kegiatan pembelajaran yang berbeda, yang pada pokoknya masing-masing mempunyai tujuan yang sama, yaitu: (1) memperpendek waktu yang diperlukan oleh siswa untuk menguasai tugas pelajaran tersebut; (2) menyediakan waktu sebanyak yang diperlukan oleh siswa dalam batas-batas yang dimungkinkan untuk menyelenggarakan pendidikan yang teratur.

  1. Digital Library dan E-learning, Pembelajaran jarak jauh.

Menurut Allan J. Henderson, e-learning adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan teknologi komputer, atau biasanya Internet (The e-learning Question and Answer Book, 2003). E-learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa saja berada di Jakarta, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di kota lain bahkan di negara lain. Dengan cara ini, pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat ia mengakses ilmu yang dipelajari. Jika, pembelajaran ditunjang oleh perusahaan, maka si pembelajar bisa mengakses modul yang dipelajarinya dengan mengkoordinasikan waktu ia belajar dan waktu ia bekerja. Tugas-tugas yang sehubungan dengan e-learning yang ditekuni pun bisa disesuaikan waktu pengerjaannya dengan kesibukan pembelajar.

Dengan E-learning dimungkinkan  jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi bisa jauh lebih besar dari pada cara belajar secara konvensional di ruang kelas (jumlah siswa tidak terbatas pada besarnya ruang kelas). Teknologi ini juga memungkinkan penyampaian pelajaran dengan kualitas yang relatif lebih standar dari pada pembelajaran di kelas yang tergantung pada “mood” dan kondisi fisik dari instruktur.
Manfaat yang bisa dinikmati dari e-learning:

–      Fleksibilitas. Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran.

–      E-learning memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk memegang kendali atas kesuksesan belajar masing-masing, artinya pembelajar diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu.. Jika ia mengalami kesulitan untuk memahami suatu bagian, ia bisa mengulang-ulang lagi sampai ia merasa mampu memahami. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu.

–      E-learning bisa memberikan manfaat yang optimal jika beberapa kondisi berikut terpenuhi. Sebelum memutuskan untuk mengikuti e-learning, perlu menentukan tujuan belajar, sehingga bisa memilih topik, modul, lama belajar, biaya, dan sarana belajar secara elektronik yang sesuai.

  1. Universitas Terbuka dan Pendidikan Jarak Jauh.

Melalui Universitas terbuka guru dapat memperoleh dan mengembangkan kualitas pendidikannya tanpa harus meninggalkan tugasnya. Sistem pembelajaran UT dikelola oleh Unit Penyelenggara Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) yang dibentuk kelompok-kelompok belajar (POKJAR). Kegiatan belajar dilaksanakan dalam kelompok belajar untuk mempelajari modul-modul yang telah disiapkan sesuai mata kuliah yang ditempuh. Guru-guru yang bertempat tinggal di daerah dapat mengikuti tanpa harus belajar ke kota Provinsi, dengan pokjarnya mahasiswa dibawah bimbingan tutor berdiskusi membahas materi dalam modul. Setelah akhir semester mahasiswa mengikuti ujian semester yang dilaksanakan oleh Universitas Tebuka yang ditangani oleh UPBJJ terdekat.

2)      Pendidik

Yang dimaksud dengan pendidik  dijelaskan dalam Tirtarahardja dan La Sula (2000:54), ialah orang yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Sedangkan pendidik menurut UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Aplikasi Teknologi Pendidikan untuk pendidik, diantaranya adalah penggunaan media yang tepat, desain pembelajaran yang sesuai dengan materi, karakteristik dan kebutuhan peserta didik, kemudian penggunaan media dan metode yang tepat sehingga tujuan pembelajaran akan mudah tercapai, penggunaan teknologi dalam pembelajaran oleh pendidik, baik teknologi sederhana maupun teknologi modern. Sehingga dengan Teknologi Pendidikan peranan guru sebagai fasilitator dan motivator akan lebih efisien, berbeda dengan pendidik konvensional yang memiliki peran tunggal dan menjadi sumber tunggal dalam pembelajaran.

3)   Interaksi edukatif, materi, alat dan metode.

Interaksi edukatif adalah sebuah interaksi belajar mengajar, yaitu sebuah proses interaksi yang menghimpun sejumlah nilai (norma) yang merupakan substansi, sebagai medium antara guru dengan anak didik dalam rangka mencapai tujuan. (Djamarah, 2010: 62)

Aplikasi Teknologi Pendidikan untuk interaksi edukatif, diantaranya adalah dikembangkannya konsep belajar secara realistis, atau belajar sambil bekerja (learning by doing). Belajar sambil melakukan aktivitas lebih banyak mendatangkan hasil bagi anak didik, sebab kesan yang didapatkan oleh anak didik lebih tahan lama tersimpan di dalam benak anak didik.

Aplikasi Tenologi Pendidikan yang lain diantaranya adalah pembelajaran kontekstual. Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. CTL disebut pendekatan kontekstual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.  (http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran-contextual-teaching-and-learning-ctl.php)

Materi atau bahan adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses interaksi edukatif. Tanpa bahan pelajaran proses interaksi edukatif tidak akan berjalan. Sedangkan alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan, alat tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan. Aplikasi teknologi pendidikan dalam alat pembelajaran contohnya: globe, gambar, diagram, slide, video dan sebagainya. Metode sebagai salah satu komponen pendidikan atau pengajaran, memiliki arti penting dan patut dipertimbangkan. Dalam mengajar diperlukan metode yang tepat untuk memberikan informasi mengenai bahan atau gagasan-gagasan baru atau untuk menguraikan dan menjelaskan susunan suatu bidang yang luas dan kompleks.

Dalam pembelajaran komponen-komponen antara interaksi edukatif, materi, alat dan metode biasanya ada dalam suatu kesatuan yang saling melengkapi. Strategi pembelajaran menurut Situmorang dalam Prawiradilaga dan  Siregar (2008:67) adalah suatu pendekatan dalam mengorganisasikan komponen-komponen pembelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran (hasil belajar).
Pada saat seorang guru atau teknolog menyiapkan bahan ajar misalnya saja multimedia pembelajaran, Ia harus mempertimbangkan suatu acuan yaitu kurikulum (desain sistem pembelajaran) selanjutnya bahan ajar itu harus mengandung prinsip psikologi pendidikan, teori komunikasi, dan literasi visual (desain pesan) kemudian bahan ajar ini harus diterapkan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat (desain strategi pembelajaran) dengan memandang karakteristik pemelajar (desain karakteristik pemelajar). Sehingga bahan pelajaran ini dapat meningkatkan keserasian pendidikan.
Metode Mengajar merupakan bagian dari strategi pembelajaran, metode mengajar berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Baik tidaknnya suatu metode mengajar sangat tergantung antara lain kepada tujuan pengajaran, materi yang diajarkan, pengetahuan awal siswa, waktu dan sarana penunjang, jumlah peserta didik dan pengalaman pendidik menurut Djamarah (2010: 229-231).
Metode mengajar yang digunakan pada proses kegiatan belajar mengajar harus mengandung prinsip-prinsip Desain Strategi Pembelajaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s